Gaza City  - Pemimpin dua faksi yang saling bersaing di Palestina, Fatah dan Hamas, berbicara melalui telepon pada malam perayaan Idul Adha, menekankan perlunya rekonsiliasi, menurut seorang pejabat Hamas, Selasa.

Perdana Menteri Hamas di Gaza, Ismail Haniya, berbicara dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas tentang "keperluan untuk kembali ke kesatuan nasional dan mengakhiri perpecahan" dalam pembicaraan telepon larut malam, kata seorang pejabat Hamas yang tidak mau disebutkan namanya.

Kedua orang itu saling mengucapkan selamat Idul Adha, yang mulai dirayakan oleh umat Muslim pada Selasa.

Gerakan Islam Hamas dan pesaingnya, Fatah, partai Abbas yang mendominasi di Tepi Barat, telah berselisih sejak pengambilalihan Jalur Gaza oleh Hamas pada tahun 2007 .

Sejak penandatanganan kesepakatan yang dimediasi Mesir pada tahun 2011 mereka telah mencoba untuk mengakhiri perpecahan di antara mereka.

Kesepakatan Kairo berkomitmen untuk membentuk sebuah pemerintahan interim konsensus independen yang akan membuka jalan bagi pemilihan umum parlemen dan presiden dalam waktu 12 bulan.

Namun pelaksanaan perjanjian terhenti selama pembentukan pemerintahan sementara, dan kesepakatan pada Febuari 2012 yang dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan ditentang oleh anggota Hamas di Gaza.

Hamas masih menentang pengangkatan perdana menteri Rami Hamdallah, dan memilih untuk mengakui perdana menteri pilihannya yaitu Haniya.

Gerakan itu mengatakan saat ini berada dalam tekanan ekonomi yang parah sejak militer Mesir yang menggulingkan sekutu Hamas, Mohamed Morsi --dari Ikhwanul Muslimin-- pada bulan Juli, menghancurkan ratusan terowongan yang digunakan untuk menyelundupkan bahan bakar dan barang ke Jalur Gaza yang diblokir, demikian AFP. (antaranews)